Fish

Jumat, 16 April 2010

METODE PEMBERIAN TUGAS

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sistem pendidikan nasional adalah suatu upaya yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia untuk mencerdaskan bangsa. UU Republik Indonesiano. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa “Pendidikan nasional adalah pendidikanyang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilaiagama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan jaman”. Selain itu pendidikan merupakan amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 1 dan 2. Ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkanpendidikan, ayat 2 menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan danmenyelenggaraan satu sistem pendidikan nasional, untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UUD 1945).

Pengertian pendidikan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 adalah usahasadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan negara. UU Sisdiknas bertumpu pada keyakinanpemerintah akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia.

Sedang tujuan pendidikan nasional menurut UU no. 20 tahun 2003 adalah untuk mengembangkan potensi beserta anak didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif, yang artinya didalam prosesnya anak didik berpegang pada ukuran, norma dan nilai yng diyakininya. Setiap interaksi belajar mengajar pasti bertujuan. Tujuan ini menentukan carak dan bentuk interaksi. Dalam mengajar terjadi suatu proses menguji strategi dan rencana yang memungkinkan timbulnya perbuatanbelajar pada siswa . Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yangbermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Karena itu, interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.

Guru harus melakukan banyak kegiatan dalam interaksi edukatif,diantaranya memahami prinsip-prinsip interaksi edukatif, menyiapkan bahandan sumber belajar, memilih metode, alat dan alat bantu pengajaran, memilihpendekatan, dan mengadakan evaluasi setelah akhir kegiatan pengajaran. Guru tidak boleh mengabaikan komponen-komponen tersebut dalam perencanaanpengajaran, karena semua komponen saling terkait dan saling menunjangdalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Metode merupakan salah satu

dari komponen pengajaran yang memiliki arti penting dan patutdipertimbangkan dalam rangka pengajaran. Tanpa menggunakan metode,kegiatan interaksi edukatif tidak akan berproses. Tugas utama guru diantaranya adalah menciptakan suasana atau iklimbelajar mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan bersemangat. Iklim belajar mengajar yang menantangberkompetisi secara sehat serta memotivasi siswa dalam belajar, akan berdampak positif dalam pencapaian prestasi hasil belajar yang optimal.Sebaiknya guru memiliki kamampuan dalam memilih dan menggunakanmetode mengajar yang tepat. Kegiatan pendidikan di sekolah cukup banyak maka sangat menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Untuk mengatasi keadaan tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas di luar jam pelajaran. Apabila hanya menggunakan seluruh jam pelajaran yang ada tiap matapelajaran maka tidak akan mencukupi tuntutan luasnya pelajaran yang diharuskan, seperti yang tercantum dalam kurikulum. Pemberian tugas-tugas tersebut sebagai selingan variasi teknik penyajian ataupun dapat berupa pekerjaan rumah. Tugas semacam itu dapat dikerjakan di luar jam pelajaran, di rumah maupun sebelum pulang, sehingga dapat dikerjakan bersama teman. Pelaksanaan pengerjaan tugas oleh siswa sebaiknya dapat dipantau sehinggadapat diketahui bahwa tugas tersebut betul-betul dikerjakan oleh siswa sendiri terutama bila tugas itu dilakukan di luar sekolah atau di luar jam tatap muka(Roestiyah, 2001: 133).

Teknik pemberian tugas bertujuan agar siswa memiliki hasil belajaryang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selamamelakukan tugas. Banyak tugas yang harus dikerjakan siswa, hal ini diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk selalu memanfaatkan hal yangmenunjang belajarnya. Selain guru, siswa atau peserta didik juga berperan penting dalamproses interaksi pembelajaran agar berjalan dengan baik dan sesuai tujuan pendidikan. Dalam proses pembelajaran di sekolah sering dijumpai kenakalan atau pelanggaran yang dilakukan siswa, misalnya membolos, terlambat, membuat keributan, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya. Hal-hal tersebut merupakan salah satu cerminan dari kurangnya disiplin siswa. Untukmengatasinya, pihak sekolah membuat peraturan, tata tertib dan disertai sanksi bagi pelanggarnya dengan berbagai pertimbangan yang tidak memberatkansiswa dan untuk kebaikan siswa itu sendiri yaitu agar siswa dapat disiplin dalam kegiatan belajar mengajar. Prijodarminto dalam Tu’u (2004:30) mengartikan ”disiplin sebagai kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan atau ketertiban. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian dari perilaku dalam kehidupan. Perilaku itu tercipta melalui proses binaan melalui keluarga, pendidikan(sekolah) dan pengalaman”. Disiplin juga merupakan sarana pendidikan. Dalam mendidik disiplin berperan mempengaruhi, mendorong, mengendalikan,mengubah, membina dan membentuk perilaku-perilaku tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan, diajarkan dan diteladankan. Karena itu, perubahan perilakuseseorang, termasuk prestasinya merupakan hasil dari suatu proses pendidikan

dan pembelajaran yang terencana, informal atau otodidak (Tulus Tu’u,2004:4).Timbulnya sikap disiplin pada siswa memerlukan proses dan latihan yang cukup lama. Diperlukan pengendalian dan pemahaman agar anak dapatberdisiplin di sekolah dan di rumah.

B. Tujuan Makalah

Berdasarkan perumusan masalah di atas maka dalam makalah ini mempunyai tujuan:

Untuk mengetahui pengaruh dan berapa besar pengaruh metode pemberian tugas terhadap prestasi belajar siswa Kelas X SMA Negeri 1 Cilimus

C. Manfaat Makalah

Adapun manfaat dari makalah ini adalah:

1. Sekolah

Hasil makalah ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam menggunakan strategi pembelajaranmata pelajaran Bahasa Inggris Kelas X SMA Negeri 1 Cilimus

2. Penulis

a. Mengembangkan pengalaman yang diperoleh di bangku kuliah.

b. Mengembangkan dan mencoba mengaplikasikan teori-teori yang penulis peroleh di bangku kuliah.

3. Ilmu Pengetahuan

a. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai tambahan praktis (penerapan teori) bagi ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan yang sesungguhnya, sehingga dapat digunakan sebagai informasi bagi yang membutuhkan.

b. Makalah ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi dan pembanding untuk makalah berikutnya dalam konteks permasalahan yang berkaitan.

BAB II

PEMBAHASAN

a. Pengertian Pendidikan

Menurut Winarno Surachman (2003: 14), pendidikan adalah suatu usaha yang bersifat sadar akan tujuan yang dengan sistematikterarah pada perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik. Perubahan yang dimaksud itu menunjuk pada suatu proses yang

dilalui. Proses yang dimaksud adalah proses pendidikan atau edukatif. Pendidikan juga merupakan kegiatan membantu anak supaya kelak cakap menyesuaikan tugas hidupnya atas tanggungan sendiri. (yahoo!answers.com). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikanadalah bantuan atau bimbingan yang diberikan oleh orang-orang yangbertanggung jawab kepada anak didik sehingga mempunyai bekalhidup.

b. Komponen-komponen interaksi edukatif

Menurut Winarno Surachman (2003:16), adapun komponenkomponen interaksi edukatif sebagai berikut :

1) Tujuan

Tujuan dapat memberikan arah yang jelas tentang kegiatanpembelajaran yang dibahas oleh guru sehingga dapat menyeleksi tindakan mana yang harus dilakukan dan tindakan mana yang harus ditinggalkan. Tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan yangdiberikan selama kegiatan interaksi edukatif berlangsung.

2) Bahan pelajaran

Bahan adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi edukatif dan mutlak harus dikuasai guru dengan baik.

3) Kegiatan belajar mengajar

Kegiatan belajar mengajar ditentukan dari baik tidaknya program pengajaran yang telah direncanakan dan akan mempengaruhi tujuan pembelajaran yang akan dicapainya.

4) Metode

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untukmencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karakteristik metode yangmemiliki kelebihan dan kelemahan maka guru menggunakanmetode yang bervariasi. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memilih metode mengajar sebagai berikut (Djamarah, 1996:184):

a) Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya.

b) Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya.

c) Situasi dengan berbagai keadaannya.

d) Fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya.

e) Pribadi guru dan kemampuan profesinya yang berbeda-beda.

5) Alat

Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalamrangka mencapai tujuan pembelajaran. Alat nonmaterial dan ala material biasanya dipergunakan dalam kekuatan interaksi edukatif. Alat non material berupa suruhan, perintah, larangan, dan nasehat.

Alat material berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan dan video.

6) Sumber

Sumber belajar dapat diperoleh di sekolah, di halaman, dipusat kota, di pedesaan dan sebagainya. Pemanfaatan sumber pengajaran tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya, dankebijakan-kebijakan lainnya.

7) Evaluasi

Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untukmendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didikdalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Pelaksanaanevaluasi dilakukan oleh guru dengan memakai seperangkat instrument penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis dan teslisan.

2. Metode Pemberian Tugas

  1. Pengertian Metode Pemberian Tugas

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karakteristik metode yang memiliki kelebihan dan kelemahan maka gurumenggunakan metode yang bervariasi (Winarno. S, 2003: 96).Dalam kamus besar BI (1999: 107), tugas diartikan sebagaisesuatu yang wajib dikerjakan atau ditentukan untuk dilakukan, pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang atau pekerjaan yang wajib dibebankan. Pemberian tugas adalah suatu pekerjaan yang harus anak didikselesaikan tanpa terikat dengan tempat. Tugas dapat diberikan dalam bentuk daftar sejumlah pertanyaan mengenai mata pelajaran tertentu dan tugas dapat berupa perintah yang harus dibahas dengan diskusi atau perlu dicari uraiannya pada buku pelajaran (www.websters.dictionary-online-net).

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwametode pemberian tugas adalah salah satu teknik yang digunakan dengan tujuan agar siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat terintegrasi (Roestiyah, 2001:133).

  1. Fase-fase Metode Pemberian Tugas

Menurut Winarno.S, (www.scribd.com) pemberian tugas dapatmengikuti fase-fase berikut:

1) Fase pemberian tugas

Tugas yang diberikan kepada setiap anak didik harus jelas dan petunjuk-petunjuk yang diberikan harus terarah.

2) Fase belajar

Fase ini anak didik belajar (melaksanakan tugas) sesuai tujuan danpetunjuk-petunjuk guru.

3) Fase resitasi

Fase ini anak didik mempertangungjawabkan hasil belajarnya, baik berbentuk laporan lisan maupun tertulis.

  1. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pemberian Tugas

Kelebihan metode pemberian tugas antara lain:

1) Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.

2) Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab, dan berdiri sendiri. Kekurangan metode pemberian tugas sebagai berikut :

1) Anak didik sering melakukan penipuan, misalnya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.

2) Terkadang tugas itu dikerjakan orang lain tanpa pengawasan.

3) Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individu.

d. Indikator Metode Pemberian Tugas

Metode merupakan salah satu komponen interaksi edukatif yang berperan penting bagi terciptanya tujuan pembelajaran. Beberapa kriteria yang bisa digunakan dalam menilai keberhasilan metode ini pada siswa adalah:

1) Siswa dapat memahami dan mengikuti petunjuk yang diberikan guru.

2) Semua siswa turut serta melakukan kegiatan belajar.

3) Tugas-tugas belajar dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.

4) Siswa dapat memanfaatkan semua sumber belajar yang disediakan guru.

6) Tanggung jawab siswa dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

7) Turut serta dan terlibat aktif dalam melaksanakan tugas belajarnya.

8) Reaksi positif terhadap stimulus yang diberikan guru.

9) Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

10) Aktif bertanya pada guru/ siswa lain apabila tidak mengerti.

3. Disiplin

a. Pengertian Disiplin

Maman Rachman dalam buku manajemen kelas, mengartikan disiplin sebagai upaya pengendalian diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam hatinya (Maman R, 1999:168). Disiplin siswa juga diartikan sebagai kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya (Ahmad Sudrajat.wordpress.com)

b. Macam-macam Disiplin

Dalam pembahasannya disiplin dibagi menjadi dua bagian:

(1) teknik disiplin dan (2) disiplin individu dan sosial. Menurut Tulus

Tu’u, teknik disiplin dibagi menjadi 3 macam, yakni sebagai berikut:

1) Disiplin Otoritarian

Disiplin otoritarian berarti pengendalian tingkah laku berdasarkan tekanan, dorongan, pemaksaan dari luar diri seseorang. Hukuman dan ancaman kerapkali digunakan untuk

memaksa dan menekan dan mendorong seseorang untuk mematuhi dan mentaati peraturan. Kepatuhan dan ketaatan dianggap baik dan perlu badi diri, institusi atau keluarga. Apabila dilanggar diberi sanksi atau sesuatu pertanggungjawaban sebagai akibat

pelanggarannya.

2) Disiplin Permisif

Dalam disiplin ini seseorang dibiarkan untuk bertindak menurut keinginannya. Kemudian dibebaskan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambilnya.

3) Disiplin Demokratis

Pendekatan disiplin demokratis dilakukan dengan memberipenjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak memahami mengapa diharapkan mematuhi dan mentaati peraturan yang ada. Dengan kata lain disiplin ini menekankan kesadaran dan tanggung jawab. Tentang disiplin individu (pribadi), disiplin sosial dan disiplin nasional menurut Wardiman Djojonegoro (GDN 1996: 254) adalah:

Disiplin pribadi sebagai perwujudan disiplin yang lahir dari sikap taat dan patuh terhadap aturan-aturan yang mengatur perilaku-perilaku individu. Disiplin sosial (kelompok) sebagai perwujudan yang lahir dari sikap patuh dan taat pada aturan-aturan hukum dan norma-norma yang berlaku pada kelompok atau bidang-bidang kehidupan manusia.

Disiplin nasional adalah wujud disiplin dari sikap patuh dan taat yang ditunjukkan oleh warga negara terhadap aturan-aturan nilai yang berlaku secara nasional

  1. Prinsip-prinsip Disiplin

Umbu Tagela dalam www.scribd.com (2004: 28) mengemukakan prinsip-prinsip disiplin sebagai berikut:

1) Disiplin bukan hanya mencakup tentang ketaatan belaka, tapi juga percaya diri, kontrol diri, inisiatif dan kebebasan bertindak.

2) Disiplin yang baik dikembangkan berdasarkan sikap kesopanan dan respek antara pimpinan dan bawahan.

3) Disiplin yang baik adalah dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna sesuai hasil perencanaan bersama.

4) Disiplin yang baik merupakan hasil pengawasan bersama.

5) Rangsanglah setiap bawahan untuk berpartisipasi dalam perencanaan.

6) Jelaskan segala aturan agar dipahami dengan baik.

  1. Fungsi Disiplin

Disiplin sangat penting dan dibutuhkan bagi setiap siswa. Disiplin menjadi prasarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata kehidupan berdisiplin, yang akan mengantar seorang siswa sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja. Berikut ini adalah fungsifungsi disiplin bagi siswa menurut Tulus Tu’u (2004: 38):

1) Menata kehidupan bersama

2) Membangun kepribadian

3) Melatih kepribadian

4) Pemaksaan

5) Hukuman

6) Mencipta lingkungan kondusif

e. Bentuk-bentuk pelanggaran disiplin siswa

Bentuk-bentuk pelanggaran disiplin yang dilakukan siswa di sekolah menurut Maman Rachman (1999: 191):

1) Siswa yang suka berbuat aneh untuk menarik perhatian.

2) Siswa yang berasal dari keluarga disharmonis.

3) Siswa yang kurang istirahat di rumah sehingga mengantuk di sekolah.

4) Siswa yang kurang membaca dan belajar serta tidak mengerjakan tugas-tugas dari guru.

5) Siswa yang pasif, potensi rendah, lalu datang ke sekolah tanpa persiapan diri.

6) Siswa yang suka melanggar tata tertib di sekolah.

7) Siswa yang pesimis dan putus asa terhadap keadaan lingkungan dan prestasinya.

  1. Indikator Disiplin

Dalam lingkungan pendidikan, siswa yang memiliki sikap disiplin akan tampak dalam perilaku sebagai berikut:

1) Datang ke sekolah tepat waktu dan mengikuti proses belajar mengajar sesuai jadwal yang ada.

2) Selalu mentaati peraturan atau tata tertib yang telah ditetapkan oleh

sekolah.

3) Siswa membuat jadwal belajar yang selalu dilaksanakan meskipun tidak ada tugas.

4) Belajar pada tempat yang telah disediakan agar tidak terganggu atau menganggu orang lain.

5) Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang.

6) Membantu warga sekolah memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah.

7) Mendorong dan memberi motivasi untuk taat pada peraturan sekolah.

8) Tidak berbuat seenaknya.

9) Tingkah laku tertib dan teratur menjadi kebiasaan.

10) Dapat mengatur waktu belajar di rumah.

11) Rajin dan teratur belajar.

12) Perhatian yang baik dan ketertiban saat belajar dikelas (Tulus

Tu’u, 2004: 88-91).

4. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:787), prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru. Belajar merupakan perubahan yang relatif menetap dan tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan dan pengalaman (www.blogspot.com).

Belajar juga diartikan sebagai suatu aktivitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi akhir dan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan ketrampilan, nilai dan sikap (Winkel, 1999: 53).

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan melibatkan aspek

mental/ psikis yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan , ketrampilan, kebiasaan dan sikap yang relatif mantap akibat pengalaman dan interaksi terhadap lingkungan. Demikian dalam setiap proses belajar orang selalu mengharap keberhasilan belajar yang berwujud prestasi belajar. Jadi prestasi belajar merupakan wujud keberhasilan belajar yang menunjukkan ketekunan dan kesungguhan dalam berupaya. Selain itu prestasi belajar juga merupakan suatu hasil maksimum yang dapat dicapai oleh

seseorang atau siswa setelah melakukan usaha belajar.

b. Fungsi Prestasi Belajar

Menurut Arifin (1988: 4) fungsi prestasi belajar antara lain:

1) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dikuasai anak didik.

2) Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat keingintahuan dan kebutuhan umum manusia termasuk kebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan.

3) Prestasi belajar sebagai informasi dalam inovasi pendidikan, asumsinya bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.

4) Prestasi belajar dapat dijadikan sebagai intern dan ekstern dari suatu pendidikan, asumsinya adalah dengan kurikulum yang digunakan secara relevan dengan kebutuhan masyarakat, anak didik serta kebutuhan pembangunan masyarakat.

5) Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap kecerdasan anak didik.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Menurut Usman dan Setyowati (1993 : 19), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah:

1) Faktor Internal

a) Faktor Jasmani yang bersifat bawaan maupun yang diperolehnya, misalnya: pendengaran, penglihatan, struktur tubuh dan lain-lain.

b) Faktor Psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yang terdiri dari:

(1) Faktor Potensial, yaitu: kecerdasan, bakat dan factor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki.

(2) Faktor Non interaktif, yaitu: unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sifat, kebiasaan, minat (kecenderungan yang besar terhadap sesuatu), kebutuhan, motivasi, emosi dan

penyesuaian diri.

(3) Faktor Kematangan fisik maupun non fisik

2) Faktor Eksternal

a) Faktor Sosial, meliputi: lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat atau kelompok.

b) Faktor Budaya, meliputi: adat istiadat, IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), kesenian.

d. Indikator Prestasi Belajar

Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketikamengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran di sekolah. Indikator dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan keberhasilandalam penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkanmelalui proses pembelajaran di sekolah. Berdasarkan hal itu, penilaian prestasi belajar siswa dapat dirumuskan sebagai berikut:

1) Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah.

2) Prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai aspek kognitifnya karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan dan ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesa dan evaluasi.

3) Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya (Tulus Tu’u, 2004: 75). Jadi prestasi belajar siswa terfokus pada nilai atau angka yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai tersebut

terutama dilihat dari sisi kognitif, karena aspek ini yang sering dinilai oleh guru untuk melihat penguasaan pengetahuan sebagai ukuran pencapaian hasil belajar. Nana Sudjana (1990: 23) mengatakan:

Diantara ketiga ranah ini, yakni kognitif, afektif, psikomotorik, makaranah kognitiflah yang paling sering dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan Dan Saran

Teknik pemberian tugas bertujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selamamelakukan tugas. Banyak tugas yang harus dikerjakan siswa, hal ini diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk selalu memanfaatkan hal yangmenunjang belajarnya. Selain guru, siswa atau peserta didik juga berperan penting dalamproses interaksi pembelajaran agar berjalan dengan baik dan sesuai tujuan pendidikan. Dalam proses pembelajaran di sekolah sering dijumpai kenakalan atau pelanggaran yang dilakukan siswa, misalnya membolos, terlambat, membuat keributan, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya. Hal-hal tersebut

Teknik pemberian tugas bertujuan agar siswa memiliki hasil belajaryang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selamamelakukan tugas. Banyak tugas yang harus dikerjakan siswa, hal ini diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk selalu memanfaatkan hal yangmenunjang belajarnya. Selain guru, siswa atau peserta didik juga berperan penting dalamproses interaksi pembelajaran agar berjalan dengan baik dan sesuai tujuan pendidikan. Dalam proses pembelajaran di sekolah sering dijumpai kenakalan atau pelanggaran yang dilakukan siswa, misalnya membolos, terlambat, membuat keributan, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya. Hal-hal tersebut

merupakan salah satu cerminan dari kurangnya disiplin siswa. Untukmengatasinya, pihak sekolah membuat peraturan, tata tertib dan disertai sanksi bagi pelanggarnya dengan berbagai pertimbangan yang tidak memberatkansiswa dan untuk kebaikan siswa itu sendiri yaitu agar siswa dapat disiplin dalam kegiatan belajar mengajar. Prijodarminto dalam Tu’u (2004:30) mengartikan ”disiplin sebagai kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan atau ketertiban. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian dari perilaku dalam kehidupan. Perilaku itu tercipta melalui proses binaan melalui keluarga, pendidikan(sekolah) dan pengalaman”. Disiplin juga merupakan sarana pendidikan. Dalam mendidik disiplin berperan mempengaruhi, mendorong, mengendalikan,mengubah, membina dan membentuk perilaku-perilaku tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan, diajarkan dan diteladankan.

0 komentar:

Poskan Komentar